workshop program Mutu Penilaian Berbasis Hots

Menunaikan Amanah Menuju Perubahan Yang Lebih Baik

Sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan, salah satu langkah yang harus ditempuh oleh lembaga pendidikan adalah memberi pelatihan kepada para pendidik (guru) agar mampu menghadirkan kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada bagaimana peserta didik (siswa) memiliki ketrampilan berpikir kritis-analitis terhadap pelajaran yang mereka terima dalam kegiatan belajar mereka di sekolah.

Karena alasan tersebut, melalui workshop program Mutu Penilaian Berbasis Hots, memandang penting untuk merevitalisasi model pembelajaran dan penilaian berbasis HOTS ;( Ketrampilan Berpikir Tingkat Tinggi) bagi para guru agar hasil yang mereka peroleh bisa ditransformasi dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Pada kegiatan workshop Mutu Penilaian Berbasis Hots, kali ini, diselenggarakan di ruang serbaguna SMK Negeri 1 Tanara pada hari 24-26 Oktober 2019, dari pukul 08.00 hingga Selesai. Sementara narasumber kegiatan workshop adalah Surjono, M.Pd. dari Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Banten

Selain seluruh guru mata pelajaran SMK Negeri 1 Tanara, ikut hadir sebagai undangan dalam kegiatan workshop kali ini adalah Kepala Bidang Pembinaan SMK Provinsi Banten,Bapak H.Wawan Murwanto,M.Pd.Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon,Kabupaten Serang dan Kota Cilegon,Bapak Ahmad Ridwan

Kepala sekolah SMK Negeri 1 Tanara , Ibu Hj.Halimah , M.Pd, dalam memberikan orientasi beberapa saat sebelum workshop Mutu Penilaian Berbasis Hots, dimulai, memberikan sambutan tentang pentingnya seluruh civitas memiliki kesamaan pandangan, bahwa kepercayaan pemerintah melalui “Sekolah Model pada dasarnya dipandang sebagai sekolah yang dapat dipercaya. Mengingat SMK Negeri 1 Tanara  termasuk yang mendapat kepercayaan itu (sebagai Sekolah Model ) maka kita harus bisa menunaikan kepercayaan yang diberikan kepada kita”, tegasnya.

Lebih lanjut Ibu Hj.Halimah , begitu beliau biasa dipanggil, juga mengharapkan kepada peserta workshop agar ilmu yang diperoleh selama mengikuti workhsop Mutu Penilaian Berbasis Hots, tidak hanya sampai pada kemampuan menerima dan menyerap materi yang diberikan oleh narasumber. Lebih dari itu adalah adanya kemauan kuat untuk diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.

“Pada saat kita banyak mendapat ilmu atau materi pelatihan, maka kita diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan dalam menguasainya saja, tetapi juga ada kemauan untuk menerapkannya”, pesannya.

Lebih lanjut Ibu Hj.Halimah juga mengajak kepada seluruh peserta workshop untuk berani melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih dinamis dan positif di saat banyak ilmu baru yang berhasil didapat.

“Pada saat kita banyak menerima ilmu baru, kemudian kita terapkan ilmu baru yang dipunyai, maka pada saat itulah kita melakukan perubahan ke arah yang lebih baik”, ungkapnya sekaligus mengakhiri orientasi workshop.

Belajar Untuk Bisa, Layak Untuk Gembira

Sementara itu, dalam memaparkan materi workshop Mutu Penilaian Berbasis Hots,, Ibu Hj.Halimah menyampaikan pentingnya para guru untuk berani merubah mindset.

“Era sekarang, kita harus merubah mindset. Oleh karenanya dibutuhkan sumber daya yang memiliki cara berpikir dan bertindak sesuai dengan tuntutan kehidupan”, katanya.

Rupanya, perubahan mindset yang dimaksud adalah karena era hidup para siswa saat ini, menurutnya berbeda jauh dengan era hidup para guru, terutama terkait efektifitas akses sumber informasi sebagai akibat pesatnya arus informasi dan komunikasi sekarang ini. Sebagai konsekwensinya, maka para guru juga harus turut mengikuti langgam kemajuan zaman kekinian, termasuk membekali diri agar bagaimana level metakognitif lebih dominan mewarnai kegiatan pembelajaran.

Sementara narasumber workshop yang lain, pak Surjono, menyampaikan pentingnya internalisasi nilai-nilai hidup (life values) bisa hadir dalam sikap hidup siswa. Pak Surjono begitu beliau dipanggil, mengurai suatu fenomena prilaku siswa; bahwa masih banyak dijumpai siswa yang sudah menerima materi pelajaran yang mengandung nilai kepatutan dalam bersikap (etika publik), tetapi masih saja belum sanggup terinternalisasi dengan baik.
Terhadap persoalan di atas, menurutnya, salah satu solusi yang bisa diandalkan adalah bagaimana melatih siswa untuk terampil berpikir tingkat tinggi dengan suatu harapan siswa bisa menggapai secara memadai penghayatan terhadap nilai-nilai kehidupan.

Memasuki inti kegiatan, peserta workshop diajak oleh narasumber untuk memasuki dunia HOTS. Ibarat gayung bersambut, para peserta antusias untuk mengasah kemampuan mereka tentang bagaimana pembelajaran dan penilaian yang bisa memenuhi kriteria HOTS.

Pada latihan pertama, peserta diajak untuk melihat perangkat pembelajaran masing-masing (RPP) dan selanjutnya diajak untuk mendalami kompetensi dasar yang mana yang sekiranya ada dan mudah dimunculkan model pembelajaran dan penilaian berbasis HOTS. Tidak kalah penting setelah itu, yaitu bagaimana merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) yang memenuhi kriteria HOTS.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *